Agen Bandarq Terbaik
Agen Bandarq Terbaik
>

Kisah Didin Yang Jadi Tahanan Gara-Gara Cacing



Agen BandarQ, BERITA AKURAT - Indonesia tidak darurat hukum tapi darurat hakim, hal ini dapat kita ambil kesimpulan dari kisah warga Cianjur, Didin (48), terjerat masalah hukum atas dugaan mencari dan mengambil cacing di area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat. Kini, Didin mendekam dalam sel Polres Cianjur.

Kasus ini bermula dari penggerebekan rumah Didin di Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penggerebekan dilakukan aparat dari Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum KLHK, pada 24 Maret 2017.
Dalam penggerebekan itu ditemukan 70-an ekor cacing tanah--jenis Sonari atau Kalung. Didin pun dianggap telah mengambil cacing itu dari TNGGP untuk dijual. Adapun cacing Sonari dikenal punya khasiat sebagai bahan obat-obatan.

Ketua Yayasan SKI, Sabang Sirait, membeberkan dampak buruk dari aktivitas ini. Antara lain, aktivitas para pelaku menggali tanah, menebang pohon, dan membakar kayu di dalam hutan. Aksi ini diperkirakan telah merusak lahan hutan, dengan luasan sekitar 35 hektare.


Meski berang dengan aktivitas mencari cacing, Sabang justru ragu bila Didin disebut sebagai pelaku. Sebaliknya, Sabang menganggap Didin sebagai korban kriminalisasi.

Kuasa hukum Didin, Karnaen, punya pandangan yang sama. "Tidak mungkin pak Didin seorang diri bisa merusak 35 hektare lahan hutan. Ini, saya kira, rekayasa kasus," kata Karnaen.
"Status mereka itu kan Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang harusnya melimpahkan kasusnya ke aparat kepolisian. Tapi ternyata saya tanya ke polisi tidak ada itu (pelimpahan)," katanya.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar TNGGP, Adison, berkukuh bahwa Didin adalah pelaku pengrusakan hutan yang selama ini diburu. Ia bahkan menyebut Didin sebagai penadah dan penyuplai logistik bagi kelompok yang mengambil cacing di TNGGP. Penangkapan ini, kata Adison, merupakan upaya memberikan efek jera.
"Kita menangkap Didin, karena ia merupakan penadah yang memberikan modal ke kelompok tersebut. Satu kelompok 20 orang & ada 3 kelompok. Ini tindakan sudah sangat masif," ujarnya.


Adapun istri Didin, Ela Nurhayati (41), berkilah bahwa suaminya tidak merusak lingkungan. Menurut Ela, Didin sekadar mencari cacing di pepohonan, bukan menggali tanah atau membakar pohon--merusak lingkungan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.